Senin, 01 Agustus 2011

Kurir Pos Selatan


“Some celestial event. No - no words. No words to describe it. Poetry! They should've sent a poet. So beautiful. So beautiful... I had no idea.” Eleanor ‘Ellie’ Arroway, Contact (1997).

Toh, Ellie pun akhirnya berkata demikian, ketika dia dihadapkan pada pemandangan maha-akbar nan tremendum et fascinatum setelah berhasil mengendarai wahana pertama yang konon dapat mempertemukan manusia dengan alien. Kata-kata sebelumnya yang sanggup dia ucapkan dengan mantap “Mathematics is the only true universal language”, jadi kehilangan taji. Pada momen yang susah payah ia capai dengan logika dan logaritma, ia justru kehilangan kata-kata. Dan untungnya dalam kisah Courrier Sud (Pesawat Pos Selatan) ini kita mendapatkan dua-duanya: seorang pilot dan seorang pencerita yang brilian: Antoine de Saint-Exupéry.

Buku ini saya temukan masih terongok di rak yang sama, di sebuah toko buku di Jogja, sejak 6 bulan yang lalu, masih saja nyempil sendirian. Waktu itu saya ragu membelinya karena merasa sudah cukup banyak membeli buku. Namun saya beli juga beberapa waktu yang lalu, setelah sempat kembali lagi ke toko buku itu, mungkin karena buku itu masih saja di tempat yang sama, sendirian. Dan alhasil banyak hal ajaib yang dapat kita temukan dalam buku ini.

Pertama-tama, jangan anda harap menemukan cerita asik dunia anak kecil seperti karya terakhirnya: Pangeran Kecil. Dan benar saja, setelah banyak teman yang mencicipi buku ini, mereka berkomentar “berat”. Namun novel pertama yang ia tulis ini harus diakui menyimpan keajaibannya sendiri, juga sesuatu yang serba subtil jika memang anda cermat.

Tiap bab bisa jadi merupakan penggalan cerita sendiri, karena itu jangan anda harapkan suatu alur yang lurus nan lempang. Sebuah montase mungkin lebih tepat menggambarkannya: potongan-potongan gambar, kejadian, atau sekedar khayal tak kenal tepi. Seperti halnya suara radio panggil (atau telegram?) dari satu pos ke pos lainnya (yang mengawali dan mengakhiri buku ini), yang ditulis begitu saja, sering tanpa keterangan lebih lanjut, membawa kita pada gambaran usaha manusia menembus kesunyian di Gurun Sahara:

Dari Saint-Louis di Senegal untuk Port-Etienne: pesawat belum tiba di Saint-Louis. Stop. Penting. Beri kabar.


Tersebutlah Jacques Bernis, seorang kurir pos yang biasa berkelana menyisir dataran eropa, menyebrangi laut mediterania dan berkelana jauh ke koloni-koloni di Afrika selalu tampak asing bagi peradaban yang maju. Berkendara pesawat sejenis Lockheed P-38 tua, dengan sayap yang rapuh dan kawat yang selalu bergetar, kita selalu diajak untuk membayangkan perjalanan itu: Langit yang bening menampakkan bintang, bukit pasir yang mengular hingga jauh, tepi laut merah tempat awan bercermin.

Namun keseluruhan cerita di sini bukan melulu mengenai romantisme alam dalam perjalanan udara. Seperti yang hampir mirip kita temukan dalam novel Antoine de Saint-Exupéry yang lain, ada kesenduan pribadi yang merasuk dalam cerita. Jacques Bernis, sang tokoh utama, sering berkelindan dengan tokoh ‘aku’, si narator kisah. Hingga tampak si narator mencoba menceritakan dirinya lewat tokoh Bernis. Dan jika anda ingat si mawar dalam kisah pangeran kecil, maka dalam kisah ini mawar itu bernama Genieve. Dan dalam tokoh Genieve inilah seluruh cerita sebenarnya berputar, termasuk Jacques Bernis dalam memilih tindakannya.

Jelas sekali dalam novel pertamanya ini, terlihat kontras dengan magnum opus dan karya terakhirnya si Pangeran Kecil: Segala hasrat perayaan hidupnya memuncak disana. Namun dapat kita temukan jejak-jejak sebelum Pangeran Kecil muncul, tema yang sama mengenai pesawat terbang, bintang serta padang pasir, pelarian (dalam pangeran kecil, ia lari memanfaatkan gerombolan burung yang bermigrasi!), ketersesatan, pertemuan dan kematian itu.

Mungkin bagi Saint-Exupéry, hidup dirayakan dalam pekerjaan (beserta kenikmatan menikmati pemandangan dari ketinggian) dan ingatan masa kecil. Hingga tepat pada 67 tahun yang lalu, pada 31 Juli 1944, tak lagi kita dapati keberadaannya. Seperti sirna.

Dari Saint-Louis di Senegal untuk Toulouse: Pesawat Perancis-Amerika ditemukan Timur Timeris stop. Dekat daerah musuh. Pilot tewas pesawat hancur surat-surat selamat. Teruskan ke Dakar
.

Dan bagi saya di sinilah letak keajaiban buku ini. Merupakan novel pertama dari Antoine de Saint-Exupéry yang ditulis ahun 1926, namun novel ini juga seakan meramalkan kematiannya sendiri di tahun 1944. JIka tidak percaya, baca buku ini hingga selesai. Sebuah kebetulan? Yang pasti kita jadi agak paham kenapa banyak kritikus menyebut karya ini merupakan otobiografinya. Namun hidup yang seperti sudah ia gariskan 40 tahun sebelumnya? Mungkin hanya kedalaman laut Mediteran, di selatan Carqueiranne, yang bisa paham.

Setelah membaca buku ini seorang teman tiba tiba datang dan membanting buku ini di depan saya. “Apa ini? Buku sampah! Masih jauh lebih bagus Pram! Mendayu-dayu gak jelas”.

Ok.

Tidak semuanya harus jadi Pram bukan? Mao boleh saja pemimpin Revolusi, dan Ho Chin Mihn boleh saja menjadi bapak bangsa Vietnam. Toh puisi yang mereka tulis pun jauh dari garangnya realisme-sosialis: tentang temaram bulan, sejuk semilir angin, sungai yang mengalir pelan.

Jakarta, 31 Juli 2011
Bramantya Basuki

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar