Kamis, 28 April 2011

Puisi Pertama Yang Mija




Si Ibu tua Yang Mija duduk mendongak sambil setengah tersenyum. Matanya memincing kearah sinar matahari yang menyisip diantara dedaunan. Tetangganya lewat sambil bertanya kenapa ia memandangi pohon. “Agar dapat melihatnya lebih cermat, untuk merasanya, untuk dapat memahami pikiran dan mendengar apa yang ia katakana”, timpalnya. Si tetangga hanya terdiam lalu undur pergi.

Itu semua bermula ketika Yang Mija tiba-tiba memutuskan untuk ikut sebuah kelas menulis puisi. “Menulis puisi itu adalah mengenai penemuan keindahan. Tentang menemukan keindahan sejati dalam setiap hal yang kita lihat dalam keseharian kita, tidak hanya sesuatu yang terlihat indah”, suatu kali ujar gurunya. “Setiap dari anda mempunyai puisi dalam hati masing-masing, namun terpenjara. Inilah saat untuk membebaskannya. Puisi di hatimu perlu mendapatkan sayap kebebasannya”, dan dimulailah perjalanan ibu tua ini dalam menulis puisi. Puisi pertama dalam hidupnya yang akan ia tulis.

Film ini menarik karena bercerita tentang bagaimana sebuah puisi diciptakan, selaras dengan judulnya Poetry. Sekilas kita akan langsung teringat beberapa film lawas yang juga bercerita tentang puisi atau penyair semisal Il Postino (1994) atau Tiger in the Snow (2005). Namun pengambilan tokoh utama ibu tua yang sedang mengidap Alzheimer inilah yang membedakan semuanya. Pengkarakterannya mendalam, dan dari segi visual pun membuat kita tak lelah memandang hal-hal yang sebenarnya biasa kita jumpai tiap hari.

Mungkin akan banyak yang akan complaint mengenai kompleksitas cerita. Antara mengasuh si cucu laki-laki Wook, Kelas Menulis Puisi, Komunitas Membaca Puisi, serta Masalah pelik yang melibatkan Wook dan teman-temannya. Namun bagi saya perpaduan banyak hal itu cukup tersaji dengan lezat, seperti bakso pedas yang ditemani oleh sajian es teler nikmat. Yang pelik berpadu dengan keindahan puisi itu sendiri.

Dan itulah yang ditemukan Yang Mija dalam pergulatan menulis puisinya. Disuruh oleh gurunya untuk menemukan keindahan, yang ditemui oleh yang mija malah kebalikannya. Bukan hanya keindahan namun juga luka. Wook dan teman-teman sekolahnya diketahui terlibat dalam kasus bunuh diri seorang siswi putri yang terjun di sebuah kali. Ia harus mencari sejumlah uang untuk membayar kompensasi dan uang tutup mulut kepada keluarga korban. Ibu Wook, yang selalu berkomunikasi dengan Yang Mija lewat handphone seperti nyata dan tak nyata, ia tak pernah hadir.

Sedikit demi sedikit nenek tua ini mengikuti jejak Agnes, siswi yang sudah mati itu di ruang kelas, laboratorium, pemakaman hingga ke tempat ibunya tinggal. Si Wook sendiri malah acuh, ia tetap menonton TV dan bermain game seolah tak ada yang terjadi. Kenyataan sehari-hari yang dialami Yang Mija pun semakin menjauhi keindahan.

Dari sini dapat kita ulik beberapa kritik yang mungkin ingin disampaikan lewat film ini. Yang pertama seputar tema kecantikan atau kerupawanan yang sering muncul dalam film maupun grup musik Korea yang digandrungi oleh banyak orang. Seolah olah timbul spekulasi bahwa semakin bagus rupa pemainnya maka semakin menjanjikan film/grup musik itu. Soal jalinan cerita bisa nomor dua. Soal musikalitas dari para grup musik itu tak perlu dipersoalkan. Bahkan pernah teman saya berujar bahwa di Korea sana, yang bermuka jelek pasti segera didiskriminasi, makanya operasi plastik sangat laku di negeri itu. Sedikit banyak hal ini tampak dari para pemain dari film ini tidak ada yang rupawan namun bermain menawan. Bahkan waktu tahu ini adalah sebuah film Korea pertama kali saya sempat skeptis ingin menyamakan dengan opera sabun yang sejeninsya. Namun tak berlebihan film ini diganjar penghargaan Palme d'Or nya festival Cannes.

Kritik yang kedua adalah tema seksualitas yang beberapa kali muncul dalam film ini. Seksualitas yang ingin dikritik di sini adalah seksualitas yang selalu mendiskreditkan tubuh perempuan. Mereka yang selalu diteropong sebagai objek seks belaka. Hal ini nampak dalam banyak kejadian dalam film ini yang menempatkan perempuan sebagai korban stigmatisasi tersebut.

Sedari awal mungkin kita sudah bisa menebak, bahwa film ini akan diakhiri dengan puisi. Dan harus diakui, satu-satunya yang ganjil dalam cerita ini adalah bagaimana puisi pertama itu tercipta. Memang Yang Mija telah melewati dan mencatat dalam peristiwa untuk bisa puisi itu ditulis. Namun puisi indah yang mengakhiri film ini tetap saja seperti Deus Ex Machina. Sesuatu yang dating seperti wahyu, bukan pergulatan panjang bertahun-tahun. Tapi biarlah, toh puisi terakhir itu juga merupakan gong penutup yang sempurna, biarpun kita akan ingat sedikit teringat ending film The Sea Inside (2008) karenanya.

Mengungkapkan puisi itu dalam tulisan ini tentu akan menjadi spoiler tingkat tinggi. Namun karena menjadi spoiler itu menyenangkan, saya tak tahan untuk menggubah puisi itu ke dalam bahasa Indonesia:

Seperti apakah disana? Seberapa sepikah? Masihkah di sana senja berwarna merah?
Apakah burung-burung masih masih bernyanyi dalam terbangnya ke hutan?
Dapatkah kau terima suratku yang tak pernah berani kukirimkan?
Mampukah aku menyampaikan pengakuan yang tak pernah berani kuakui?
Akankah waktu berjalan dan mawar merepih?
Kini adalah waktunya tuk mengucap selamat tinggal.

Layanya angin yang berhembus pelan lalu kemudian menghilang
hampir seperti bayang-bayang

Kepada janji yang tak pernah terjadi
kepada cinta yang akan terus buntu
kepada rerumputan yang mencumbui kakiku yang letih
dan kepada jejak-jejak kecil yang terus mengikutiku
Kini adalah waktunya tuk mengucap selamat tinggal.

kini ketika gelap tiba
akankah kandil dinyala kembali?
dan dari sini ku berharap, tak seorangpun kan menangis
sekedar kau ketahui betapa ku mencitaimu

saat penantian panjang di tengah parau kemarau
jalan tua itu membuat teringat akan muka ayahku
bahkan dalam kesendiriannya bunga liar itu ikut berpaling malu

betapa dalam rasa ini
betapa jantungku tiba-tiba mekar mendengar nyanyi sunyimu
senantiasa ku kan mendoakanmu, sebelum kusebrangi sungai hitam itu
dengan nafas terakhir di jiwaku

sekarang aku mulai memimpikan sebuah minggu yang cerah
dan lagi, aku terbangun oleh silau mentari
serta kudapati kau berdiri di sisiku



Film ini mungkin bisa menjadi semacam catatan kaki bagi kita tentang keindahan, kecantikan atau kerupawanan. Terutama pada sebuah zaman dimana yang indah bukan lagi pengalaman personal dan interpersonal, namun telah dibuat masal oleh media informasi.

Yang Mija akhirnya tidak hanya menuliskan keindahan dalam puisi peramanya. Terdapat luka dan derita yang tak terelakkan. Tapi berkat itu sebuah puisi menjadi liris, bermakna. Ia tak berisi puja-puji kosong atau igauan tentang segala sesuatu yang elok. Dan dengan demikian kita pun semakin ragu: Benarkah ada derita dalam keindahan, atau karena ada derita itulah maka muncul keindahan?

(Bramantya Basuki)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar